Friday, May 13, 2016

DIATAS SAJADAH BATU

Diatas sajadah batu
sembilan puluh sembilan asma indahMu kusebut satu satu
Dalam nyanyian aku mengatur detak ketukan irama kalbu
Mengalir darah pembuluh hingga ujung syaraf kening mencium tilas penghambaan
Kelopak anggrek hutan perdu bersama bening riak kali berpacu pacu
Semua menyaksikan betapa mesra cengkerama sepi berpeluk rindu.

Diatas sajadah batu
sayap bola mata terbang lepas menyisir langit lapis tujuh.
Mengantar doa diantara berjuta partikel andromeda
Mengetuk pintu sidratil muntahaTuhan, ini aku,
bersama sebongkah cintaku yang karat karena korosi zaman
berharap tak Kau sudahi sifat Arrahman Mu kepadaku meski aku dalam kubangan jelaga.

Ku yakin ke agungan  IlmuMu memancar dalam keindahan dan keadilan cinta kan menghalau keraguan jiwaku.
Sebab tak terbetik dalam lapisan proton sel hatiku  berselingkuh atas namaMu.
Namun dalam kepasrahan ini bukit mana harus kudaki lagi, ngarai mana kan kujelajahi  gugusan bintang yang mana lagi aku tadabburi agar kembara ketulusan cinta
 tak memadamkan hasrat ku padaMu.

Wahai Al Mathin, Tuhan yang maha tersembunyi
 inikah pelajaran yang kupetik dari letihnya mata sejarah, tersibak helai demi helai
 nafasterengah memburu fatamorgana dari tikaman perihnya dunia
darah mengalir bukan lagi lewat pembuluh nadi tapi membasah keselasela pori-pori panca indra.

Ku sadar cahayaMu begitu sempurna untuk kurengkuh
tapi ijinkan di keharibaanMu cintaku berlabuh

No comments:

Post a Comment